Semua ini berawal ketika aku menonton Film “Tanah Surga Katanya” yang berlatar di pulau Kalimantan. Semenjak menonton film itu aku bertekad untuk pergi ke sana entah bagaimana caranya.
Film itu menggambarkan bahwa Kalimantan adalah tanah yang memiliki keterbatasan. Baik dari segi fasilitas umum, kesehatan, dan pendidikan. Ya aku yakin tidak semua tempat di Kalimantan seperti itu. Tapi dari film itu aku sadar bahwa di Indonesia masih ada tempat seperti itu.
Aku sempat berpikir bagaimana caraku untuk manapakkan kaki di pulau itu. Karena sedari kecil belum pernah sekalipun aku pergi ke luar pulau Jawa. Aku sempat mendengar bahwa kampusku biasa mengirikmkan mahasiswanya untuk KKN di penjuru nusantara. Aku pun mulai mencari-cari tempat KKN di Kalimantan.
Hingga suatu hari ada sebuah pesan Whatsapp dari temenku. Ilim namanya. Dia menanyakan tempat tujuan KKN ku. Dengan mantap aku menjawab. Kalimantan. Dengan baik hati Ilim memberikan kontak Melfin yang merupakan temen SMA nya. Akhirnya aku pun menghubungi Melfin.
Singkat cerita aku harus melewati tahap wawancara. Masih ingat jelas saat itu aku yang berlatar belakang jurusan kebidanan baru saja menjalani ujian OSCE (Objective Structured Clinical Examination) semacam ujian praktik untuk menguji kompetensi klinik mahasiswa sebelum diterjunkan ke lahan praktik alias rumah sakit. Sayangnya melfin tidak mewawancarai aku, akhirnya aku di wawancarai dengan teman satu tim KKN nya.
Setelah melakukan janji sebelumnya, aku pun pergi ke perpustakaan pusat kampus dengan masih mengenakan seragam putih khas mahasiswa praktikan untuk melakukan wawancara. Saat itu aku diburu waktu karena siang nanti masih ada ujian OSCE lagi.
Aku kaget ternyata yang mewawancarai aku adalah Byanta yang sebelumnya pernah aku kenal. Byanta adalah temanku sewaktu menjadi Cofas (Co-Facilitator) semacam pemandu mahasiswa baru di PPSMB PALAPA (Ospek ditingkat universitas).
Hm.. kalau begini kampus yang ngga cukup diputerin seharian dengan berjalan kaki ini barasa sempit selali. 😀
Karena sudah saling kenal akhirnya bukan aku yang diwawancara malah aku yang mewawancara Byanta, aku tanya apa aja yang ingin aku tahu dari Sepunggur. Oh iya nama daerah KKN mereka adalah Sepunggur. Byanta cerita bahwa Sepunggur itu hutan yang dibabat dan dijadikan pemukiman untuk transmigran dari Jawa Tengah. Ada beberapa hambatan untuk melangsungkan kehidupan di sana seperti susah mendapatkan air jernih, jalan utama yang belum jadi, dan tidak adanya fasilitas listrik. Waaw ini tempat yang aku cari dalam hati.
Tapi sayang Sepunggur tidak masuk dalam rilis tempat KKN semester genap yang dikeluakan oleh LPPM. Byanta mengatakan bahwa sempat ada kesalahan sehingga tempat itu tidak masuk dalam list. Tapi dia sempat meyakinkan aku bahwa timnya akan berusaha supaya Sepunggur bisa masuk list LPPM untuk KKN periode ini. Byanta memberikan aku waktu untuk berpikir.
Oke akhirnya aku minta pertimbangan Ilim. Karena secara tidak langsung Ilim lah yang mempertemukan aku dengan Sepunggur. Lalu Ilim menjawab. Bismillah Rin. Masuk aja. Entah dapet bisikan dari mana tiba-tiba aku terima saja saran dari Ilim. Dari sinilah cikal bakal kisah per-KKN-an ku dimulai. Terima kasih Ilim. Hehehehe.